Tapi, entah kenapa ada magnet kuat yang menyuruh saya untuk datang ke pembukaan lises tersebut.
Pagi-pagi dengan keadaan setengah sadar saya menuju Gor Pakuan, seperti biasanya menunggu teman yang dikenal untuk masuk bersama-sama. Setelah kumpul semua, kami pun mengantri di depan pintu untuk mengabsen dan mendapatkan teks mars lises.
setelah selesai mengantri, saya pun duduk di barisan paling depan (biasa sih orang pinter duduknya pasti paling depan atau mungkin ada faktor lain? hehe). Gak begitu lama duduk, ada yang nyeletuk "eh, eh liat tuh (sambil sedikit menunjuk ke arah laki-laki bertopi loreng). Itu kayaknya pelatihnya deh". Tanpa paksaan, kepala pun menoleh ke arah yang di tunjuk. Emm di liat-liat kayanya bener tu pelatihnya soalnya cocok sama mukanya (hehe maaf buat orang yang ngerasa ^^v). Dengan lihainya laki-laki itu memainkan alat-alat gamelan, tapi tu orang emang pengen mainin gamelam atau cari perhatian orang? uuuuh legegnya ga nahan. Tapi saya mengakui bahwa anda mahir untuk memainkannya hahaha :)
Selang beberapa menit kemudia waktunya gladi untuk pembukaan. Terdengar suara laki-laki yang menyuruh kita untuk berdiri. Kenapa sih mesti berdiri segala? so so ngatur. Siapa sih? ternyanya laki-laki itu adalah jeng jeng jeng jeeeeeeng, laki-laki bertopi loreng, ngapain di depan sambil megang mic? jangan bilang dia yang mau ngajarin marsnya lagi? Dan ternyata benaaaar laki-laki itu yang akan mengajarkan marsnya. Dengan suara yang tidak begitu bagus, gladi pun berjalan. Dan acara pembukaan pun di mulia.
Di awali dengan tarian pembukaan dan tarian yang lain, trus di lanjut sama rampak kendang, dan di akhir-akhir ada perkenalan perbidang-bidangnya.. tapi tapi tapi, ngapain pelatih ngikut-ngikut di dalem bidang? Uwwwaaaaw ternyata tu orang bukan pelatih, tapi DPP (dewan pertimbangan pengurus). Dan orang itu memperkenalkan dirinya "Sampurasuuun, wasta pun ... (hayooh siapa tuh namanya? nantikan cerita selanjutnya ^.^ )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar